Tuesday, January 15, 2019

Kijang dan Serigala

Waktu itu kijang dan serigala sedang bersama-sama berada di atas jembatan gantung.

Tak tahu kabar langit yang sedang menunggu saat terbaik untuk menjatuhkan hujan.

Saat ketika kijang hampir mencapai ujung jembatan, hujan itu pun turun.
Kijang ingin berlari ke tempat teduh bersama kawanan lainnya, namun serigala memanggilnya berteduh di suatu pondok yang lebih dekat.

Basah. Sudah pasti.
Dingin. Tidak diragukan lagi.

Dengan ragu kijang pun berlari kecil mengikutinya.

Ketika sudah sampai di pondok kecil itu,
Hujan malah turun semakin menjadi-jadi.
Keheningan pun terjadi.
Hanya suara hujan yang menghiasi kosongnya ruang.

Keduanya terpesona dengan berulangnya gerakan tetes-tetes tersebut.

Akhirnya serigala dengan tampang sayupnya mengajak kijang berbicara membahas mengenai mangsaannya.

Sejak kapan serigala dizinkan boleh begitu nyamannya membahas mangsa di depan mangsa?
Mungkin karena pada kenyataannya serigala yang satu ini hanya memangsa yang menyerahkan diri untuk dimangsa.
Jadi kijang ini pun tak takut padanya.

Setelah beberapa saat, kijang pun sadar bahwa serigala ini pasti memiliki pesona khusus untuk membuat mangsanya menyerahkan diri begitu saja.

Kijang segera memutuskan untuk bergabung dengan kawanan lainnya.
Ia pun mengambil ancang-ancang untuk menerjang hujan. Namun serigala menghentikan gerakan kijang.

"Begini, aku akan pergi mencari daun besar untuk kubawa ke sini. Kamu tetap di sini jangan pergi kemana-mana."
"Tidak, jangan, lebih baik kita bersama berlari menuju ke tempat mereka."
"Mana lebih baik? Dua basah? Atau satu basah?"
"Satu."

Lalu ketika kijang hampir menerjang hujan, serigala memberhentikannya lagi.
"Aduh jangan", katanya.

Kijang bukannya tidak menghargai tawaran itu. Namun ia bukan tipe yang membiarkan sembarang orang bebas berperilaku baik padanya.

Serigala pun mulai kebingungan.
"Kalau begitu, kamu saja yang pergi cari gih, aku akan tunggu di sini."

Tanpa banyak bicara, kijang pun langsung berbalik dan ingin pergi mencari.
Dengan tangkas, serigala menariknya mundur dan berkata, "Nih kamu jaga bantal ini, aku g mau ini basah."
Lalu serigala yang pergi lari menembus hujan.

Kijang pun membiarkannya.
Merasa senang karena serigala bekerja lebih bukan hanya untuk dirinya seorang, melainkan untuk bantal itu juga.

Selanjutnya kami berjalan teduh di bawah daun besar yang melingkupi sampai ke tempat kawanan kami berada.

Saat itulah kijang menerima tatapan dari dia.
Dan kijang pun sibuk menyusun kata-kata untuk menjelaskan apa yang terjadi.