Cuaca di luar yang sejuk,
Kesunyian dan kehangatan dalam ruangan,
beserta aroma biji kopi yang mempesona,
Disitulah dua insan duduk saling bertatapan.
beserta aroma biji kopi yang mempesona,
Disitulah dua insan duduk saling bertatapan.
Yang lainnya boleh diabaikan dulu,
Aku hanya ingin diam menatapnya sebentar lebih lama. Dan sebentar lebih lama lagi.
Aku hanya ingin diam menatapnya sebentar lebih lama. Dan sebentar lebih lama lagi.
Entah kuterima kekuatan dari mana, tiba-tiba saja rasanya otakku mampu bekerja secara maksimal untuk mengingat setiap cerita yang ia sampaikan, setiap gerak-gerik yang ia lakukan, dari gerak perpindahan bola matanya sampai gerak jari-jari tangannya.
(Kalau ada kesempatan, mungkin gerak jari-jari kakinya pun akan ku perhatikan dan kuingat)
Sampai ketika ia menceritakan tentang hari nya yang melelahkan,
Aku pun turut merasakan kelelahannya.
Aku pun turut merasakan kelelahannya.
Ia melipat tangannya di atas meja dan mengistirahatkan kepalanya di sana sambil menatapku.
Aku pun dengan fokus masih menatapnya.
Ia mulai dengan kata demi kata,
membukakan diri menceritakan kelemahan yang ada di hidupnya.
membukakan diri menceritakan kelemahan yang ada di hidupnya.
Hah!
LUCU.
Dunia terasa semakin lucu.
LUCU.
Dunia terasa semakin lucu.
Mengapa kelemahannya justru menjadi celah untukku mencintainya lebih...

No comments:
Post a Comment