"Jie, nih" katanya, sambil menyerahkan kepadaku bantal tanpa kuminta.
"Lho memangnya kamu gak perlu pake?" Tanyaku
"Pake aja"
Lalu aku pun menerimanya.
Selang beberapa waktu kemudian, ia malah mengambil bantal milik adiknya.
Tapi tak apa, aku tetap menghargainya.
Ada lagi kejadian di lain ruang dan waktu.
"Jie, sini" --jangan bingung aku dipanggil jie karna, itu panggilan kakak dalam bahasa mandarin. Dibaca 'cie'-- ia menggandeng tanganku dan membawaku.
"Eii mau kemana kamu?" Aku udah pasrah aja mau dibawa kemana.
"Kita disini aja main" ia membawa ku ke tempat jauh dari keramaian mendekati udara malam, mengeluarkan mobil mobilannya.
Aku pun berakhir main mobil-mobilan.
Yang menggelikan, kebahagianku malahan tak kalah dengan kebahagiaannya.
Ia hanya berumur 7 tahun,
Dan aku tidak akan tau ia pernah nangis, kalau aku kehilangan se per sekian detik saja untuk melihat adanya air mata yang waktu itu lolos yang dengan segera ia hapus dengan tangannya.
Perasaannya bisa ku mengerti karena aku sendiri juga pernah menjadi seorang anak kecil yang harus menuruti setiap aturan orang tua yang bahkan belum bisa ku mengerti.
Namun begitulah, kita semua pasti pernah melalui proses masa kecil itu.
Kelak nanti ia pun akan mengerti kenapa orang tuanya memberlakukan aturan seperti itu.
Sama seperti kita sekarang,
Mungkin kita masih penuh tanya mengapa pelukis melukis canvas kita dengan warna ungu, kuning, biru, kenapa tidak orange? pink?
Tenang, kelak nanti kita juga akan melihat hasilnya.
(Omong-omong aku kangen pake bahasa Indonesia, kemarin aku baru coba baca ulang blog kedua di akun ini.. hatiku tersentuh sekali gaes)

No comments:
Post a Comment