Monday, April 20, 2015

Permainan yang Hidup

Sebut saja ke tiga teman ku ini adalah si satu, dua sama tiga.

Ini hanyalah permainan kartu.

Jadi sisa 4 orang yang msh hidup. Si satu, Si dua, Si tiga dan Aku (Vanessa). Diantara kita berempat ada satu pembunuh. Nah siapa pembunuh itu??

Si satu: aku yakin pembunuhnya itu adalah si tiga!
Si dua: percayalah.. bukan si tiga pembunuhnya.. pembunuhnya itu si vanessa!

Vanessa: apa?? Aku?? Aku bukan pembunuh!

Mata si satu melihat kedalam mataku.. dn aku menatapnya kembali dngan tatapan yang benar" menunjukkan bahwa bukan akulah pembunuhnya

Si tiga: yah. Aku setuju dengan si dua.. bahwa vanessa lah pembunuhnya.. karna aku tau.

Aku bahkan lupa kapan terakhir aku pernah merasakan takut yang seluarbiasa ini.. telapak tanganku memanas dn bergetar kencang.. aku sangat ketakutan.. gelisah.. smpai akhirnya Si satu mengeluarkan suara lagi

Si satu: aku jga tau.. aku tau betul pembunuhnya itu bukan vanessa. Kalau pun pembunuhnya bukan si tiga.. pembunuhnya jga bukan vanessa! karna aku pribadi sndiri kenal dia. Aku tau dia!

Ha?? Apa yang buat dia begitu yakin?? Apa ada jwaban yang tertera di dalam mataku?
Ketika kata-kata itu mengalir keluar dri mulut seseorang seperti dia.. perasaan ku semakin kacau balau.. rasanya aku ingin teriak dan lari dari permainan itu sambil menangis sepeti anak kecil. aku benar benar merasa sangat berdosa.. namun di sisi lain aku sangat berterima kasih karna ia berusaha untuk melindungiku. Ia percaya padaku.

Beberapa menit kemudian sesi menuduh sudah berakhir.. waktunya ambil suara
Narator: siapa yang menganggap vanessa adalah pembunuh?

Si dua dan Si tiga mengangkat tangan mereka

Narator: okay.. baiklah.. kalau begitu siapa yang menganggap Si tiga adalah pembunuh?

Si satu mengangkat tangan dengan yakin.. dan aku juga mengikuti jawabannya.. karna kalau tdak, maka akulah yang akan dibunuh mereka.. karna mereka menganggap akulah pembunuhnya..

Ketika tiada lagi salah satu dri kta yang mau mengalah dn mengubah jawabannya.. Narator pun akhirnya menyelesaikannya dengan mempersilahkan Si tiga dan aku untuk buka kartu..

Ku buka kartu ku dengan perlahan namun pasti begitu juga Si tiga..

AS. Kartu ku adalah kartu AS yang jelas jelas menunjukkan bahwa aku lah pembnuhnya..
sedangkan kartu Si tiga adalah kartu Queen yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang healer (penyelamat).

Aku berani bertaruh bahwa apa yang kulihat saat itu benar benar nyata. Si satu memandangku dengan pandangan yang sangat terkejut.. dn kecewa(?)..

disaat itulah aku benar benar merasa.. bersalah.. dn tiada kata" yang bisa kukatakan kecuali maaf.. maaf karna telah menggunakan kepercayaannya secara cumacuma.

Tak ku sangka ternyata permainan biasa pun bsa sebegitu.. hidup(?)

No comments:

Post a Comment